Senin, 07 Maret 2011

saya rusuk siapa?

Tiba tiba saya ingin menuliskan tentang pendamping.

Pendamping hidup.

Setiap orang mempunyai kriteria akan tetapi pada akhirnya tiba semua seakan menjadi kriterianya.

Akhir akhir ini saya banyak menemukan teman saya yang berusia nyaris kepala tiga, tapi belum mau memutuskan untuk menikah.

Saya hanya bertanya , kenapa seseorang takut di hadapkan pada perkawinan daripada klien kerja yang sadis?

Setiap orang memang punya ketakutan..

Mungkin dari sekian banyak ketakutan, ketakutan akan pernikahan adalah yang paling parah adanya.

Saat ini , saya ingin menikah muda tapi saya seperti tidak menyukai sebuah hubungan yang ujungnya hanya meninggalkan dan ditinggalkan.

Yap, setiap orang dilahirkan sebagai serdadu, serdadu untuk bertahan hidup.

Dan saya lebih banyak melihat serdadu yang takut jatuh cinta daripada serdadu yang takut mati dalam perang.

Dalam sebuah pernikahan, saya seringkali menginginkan kriteria seperti dalam pikiran saya.

Pintar.

Saya selalu terkesan dengan orang berpikiran cerrdas.

Penulis.

Saya suka laki laki yang bisa menuangkan isi otaknya ke atas kertas.

Baik.

Klise, tapi saya butuh.

Mengayomi.

Harusnya, maka dari itu kenapa saya selalu menyukai laki laki yang lebih tua.

Penakluk.

Saya akan salut pada lelaki yang bisa menaklukkan hati saya. Karena saya sampai saat ini gak tahu kunci hati saya siapa kuncennya, ahhahaha.

Saya sering menjadikan diri saya konyol ketika saya berhadapan dengan orang yg lebih tua.

Tapi dibalik kekonyolan saya, sebenarnya saya memperhatikan mereka.

Sampai saat ini , belum ada yang linger di hati saya.

Saat iini saya sedang mengagumi seseorang.

Saya 20 tahun.

Dia 36 tahun dan belum menikah.

12 desember ini dia ulang tahun.

Dia tidak mengenali saya, tapi saya memperhatikan dia.

Kami terpisah jauh.

Kami Cuma bertemu 1 kali.

Dan mungkin diperlukan banyak keajaiban untuk mempertemukan kami lagi, kami berkenalan dan jadi teman.

An unordinary fate.

Tapi saat ini saya Cuma bisa mendengar suaranya tiap pagi.

Lagunya tepatnya.

Saya hanya tinggal menunggu dia menikah karena untuk bertemu saja sudah tidak mungkin.

Kapan?

Tidak ada yang tahu.

Biarkan saya kagum sampai saya kembali lalai dengan dongeng unicorn.

Saya tipikal yang tidak menyukai hubungan pacaran , tapi saya tidak takut terhadap pernikahan.

Semoga ketika saya menikah nanti, saya tidak harus melalaikan pikiran saya dengan dongeng unicorn lagi.

Dongen unicorn adalah dongeng pengisi kekosongan pikiran saya tentang sosok laki laki dan cinta.

Jika saya sudah merasa ada sosok nyata yang mampu meng- cover semuanya tanpa dia menjadi bayang bayang tipe saya,

Dia menjadi dirinya sendiri dan mencintai saya dengan cara terbaiknya.

Maka saya tak butuh lagi unicorn.

Saya akan tutup cerita tentang dongeng unicorn.

Itu semua memang sebuah kriteria, kenapa tidak ada kata tampan ?

Karena bagi saya , tampan adalah relatif.

Dan Saya masih jadi manusia yang menjunjung tinggi kata “BAIK” daripada “TAMPAN”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar