#NowListening : SHANDY SONDORO – DOWN ON THE STREET // 17 maret 2011.
Kemarin saya ke kojek, jalan kaki dari radio. Alaamaaak, laaamaa kali gak jalan kaki. Berhubung baru siap hujan dan gak terik terik kali lah, saya jalan kaki sama temen saya. Saya merhatiin kota ini. Tiap trotoar yang saya lewatin, saya kayak dapet inspirasi buat jadi bahan nulis. Kota ini mulai berubah. 19 tahun saya tinggal di banda aceh, semuanya gak lagi sama. Jalanannya, bangunannya, kehidupannya, dan juga orang orangnya. Saya girang banget, Kayak anak monyet turun gunung. Apalagi waktu traffic lg kosong, saya lari larian kecil gak peduli orang liatin. Lewatin peunayong, liatin toko toko jaman. It was nice. Sampe di penayong, ada satu sisi simpang yang masih otentik temboknya. Dekorasi jaman, tapi udah dibranding sama orang dan buat itu jadi ga indah. Dan sederetan toko itu juga kayaknya tinggal di renovasi dengan struktur toko modern, padahal seharusnya kita musti ngelestariin bangunan jaman itu.
Saya juga mendapati toko ini penuh dengan toko. Dimana mana toko. Bahkan ditempat saya makan, sepanjang jalan tokoooooo semua. Saya sempat terharu pas liatin 2 anak kecil peminta minta. 2 anak kecil perempuan berusia kira kira 11 tahun, ya sebaya adik saya. Saya yang lagi makan tiba tiba pengen nangis. Gak tahu kenapa, saya hanya terharu. Dibalik semua pembangunan kota yang lagi gencar gencarnya, kota saya masih terselip kisah kemiskinan yang nyata. Oke, mungkin mereka peminta minta itu punya alasan kenapa mereka mengemis, tapi yang saya pertanyakan, kenapa harus anak di bawah umur juga ikut?? Salah siapa ini? Harusnya anak anak itu fokus belajar dan gak minta minta. Tapi alasan bantu orang tua adalah alasan yang memang mendasari mengapa mereka mengemis.
Saya dengan teman saya melewati banyak perbincangan. Mulai dari politik sampai urusan makan. Temen saya sempat nyeletuk,”kak, maunya sebelum pasal 34 dirancang , dipikir dulu ya. Sekarang kiat yang terlantar, makin terlantar.”
Saya Cuma tersenyum kecil dan ngelanjutin makan. Saya gak komentar.tapi hati saya bergumam “realita itu memang kejam”.
Pas pulang, saya sempet liat turis dari korea entah, motoin bangunan tua di sekitar situ. Di pikiran saya, andai aja toko toko ini tetap di pertahankan “ketuaan”nya. Ni turis aja masih mau moto yang udah agak ringsek bangunannya.
Saya dan temen saya akirnya balik dari kojek ke radio. Kali ini kami lewat depan rek. Dulu, rek ini banyak kulit kerang dan saya selalu suka itu, sekarang udah di pugar baru jadi bernuansa minimalis modern gitu. Huff, banyak sekali udah tempat makan. Sepanjang jalan penayong juga tokoooooo semuaaaaa. Padahal kalo dibangun taman, kan ada manfaatnya juga. Kota ini semenjak tsunami, mulai kekurangan pohon. Pohon besar khususnya. Padahal kota butuh pohon untuk netralisir udara kota yang penuh sama asap.
Oke di bawah beurawe PERNAH ada taman, tapi sekarang tinggal sisa. Gak pada di rawat. Lampu pada dicopotin, tembok dicoretin dan parahnya lagi dermaganya hancur. Dulu di depan mesjid raya juga ada taman dengan tulisan DILARANG MENGINJAK RUMPUT ! tapi sekarang pernah saya liat disitu jadi tempat mangkal orang jualan jajanan kali lima semisal bakso. Jangankan injak rumput, itu tempat udah jadi tempat jualan sekarang. Kalo aja pemerintah lebih aware dgn bangunan bernilai sejarah atau berarsitektur lampau, pastinya sekarang bangunan deket pasar aceh yang sekarang jadi salah satu swalayan itu, udah bisa jadi spot foto yang bagus. Sebenarnya banyak bangunan di banda aceh ini yang punya jaman dulu dan berarsitektur tempoe doeloe., tapi semua pada missing.
Harapan saya, semoga kota ini lebih sadar apa yang dia punyai dan di jaga dengan baik daripada menciptakan yang belum kita punya tapi disia siakan pada ujungnya. Kita punya banyak hal indah lho. Kita punya pantai yang cantik dan luas. Kita punya hutan seulawah yang hijau. Dan banyak hal lain yang seharusnya kita jaga.
Teman, bumi mulai tua. Alam selama ini selalu memberi, kenapa kita untuk menjaga saja susah. Mulai lah dari hal kecil, setidaknya kita tahu untuk membuang sampah pada tempatnya. Sekarang internet udah ada dimana mana, gak ada salahnya kan 5 menit aja buat browsing tentang bumi dan cara menjaganya. Toh, manfaat nya untuk kita juga. Udah cukup bencana dimana mana, dan ini tandanya alam mulai geram. Jangan lagi ada penebangan liar, kasian hewan hewan pada terganggu hidupnya. Misalnya : kalo ada harimau lewat kedepan rumah, warga pada nembakin karena ketakutan. Harimau mati. Padahal kalau dipikir, kenapa dia bisa sampai mengganggu habitat manusia? Karena habitatnya juga di hancurin sama manusia. Dia gak tau musti pulang kemana kalo hutan terus terusan dirusak. Kadang tanpa disadari kita terlalu banyak menyalahkan daripada menyadari kesalahan.
Semoga hutan seulawah, ga dijadikan lahan proyek ya. Kayunya gak ditebang. Biarkan lah area hutan tetap orisinil tanpa harus dibuat macem macem. Kasian hewan didalamnya, hidup mereka terganggu. Hewan jangan pada diburu. Apalagi hewan langka. Saya belum pernah liat langsung badak bercula satu, dan menurut WWF,, jumlah nya di seluruh dunia tinggal 40 – 60 ekor. Jangankan saya, mungkin banyak dari kita yang belum liat badak cula satu. Di seulawah mungkin ga ada badak cula satu, tapi monyet monyet itu, yang hobi jadi “pengemis” dari tiap bis yang lewat gmana? Mereka ngais ngais sampah, minta makan sama tiap mobil yang lewat. Kalo dipikir logika, masak hutan gak bisa nyediain makanan buat mereka. Sebenernya bukan gak bisa, tapi memang udah kurang.
Ini miris. Semoga indonesia khususnya aceh, bisa menjaga lingkungannya dengan baik. Jadi jangan marah marah kalo cuaca labil (dalam panas ada hujan, atau bentar panas, bentar hujan), bumi mulai gak seimbang. Mari selamatkan bumi. Kalo bukan kita, siapa lagi. Tuhan nyiptain bumi sesempurna mungkin, kenapa kita yang dikasih titipan , gak bisa jaga dengan baik??
Jawab dalam hati, dan mari mulai menjaga bumi. Kita butuh aksi bukan basa basi.