Rabu, 23 Maret 2011

Tidak Usang

Apa yang kamu fikirkan pertama kali saat memegang tangan ini?

Kasarkah?

Maki saja aku.

Aku tak becus jadi wanita.

Apa yang kamu fikirkan saat membelai rambut ini?

Rontokkah?

Marahi aku.

Aku memang mulai tua.

Apa yang kamu fikirkan saat melihat garis halus tipis di sudut mataku?

Keriputkah?

Aku memang menakutkan.

Ada yang berbeda dengan tubuhku?

Mulai kendorkah lipatan kulitku?

Bergelambir seperti tapir.

Harusnya kau sadari itu.

Untuk apa terlalu mencintaiku puluhan tahun lalu hingga sekarang?

Tidakkah kau merasa rugi?

aku mulai tua.

Dan kau juga tua, tapi kau menawan.

Aku menua sayang.

Aku menua dalam hatimu yang tidak pernah menua untukku.

Jika suatu hari nafasku perlahan sesak dan berhenti.

Relakan aku dengan hati mu yang awet muda.

Selasa, 22 Maret 2011

Bukan Untuk Dicaci !

Ketidakmungkinan adalah teman dari kemungkinan. Mereka sangat akrab sampai manusia menganggap hanya ketidakmungkinan yang lebih dominan daripada kemungkinan. Mungkin karena itu juga mereka tetanggaan dengan pesimistis dan optimistis. Yang jelas, kita dan mereka semua seperti koin, bertolak belakang tapi selalu mengiringi. Dan saya mengalami kepesimisan di hari minggu sampai saya menganggap “saya tidak punya hari minggu” pekan kemarin. Seharian penuh saya mengikuti pelatihan untuk proses skripsi saya. Dari semua materi, awalnya saya menganggap, sumpah ini payah sekali. Saya membayangkan banyak istilah dan sistem yang harus saya kuasai guna mendukung proses itu. Kala itu saya gelagapan jadinya. Seharian penuh juga saya berhasrat ingin cabut dari kelas. Yah, berbagai turunan syaitonirrajim membisikkan godaan di kuping saya. Yang saya inginkan saat itu hanya satu , pulang !

Mungkin ada banyak orang yang seperti saya. Malas mendekam di suatu keadaan yang dianggap membosankan padahal itu penting. Sama halnya dengan ketika kita harus menjalani proses. Iya, sebuah proses. Tidak semua orang bertahan ataupun bahkan punya keinginan untuk menjalani proses. Karena secara mata telanjang dan pemikiran kita Cuma mikir “iya benar, proses gak enak. Adakah yang instan?”

Kita ambil contoh kecil yang mungkin sering kita lakukan sebagai seorang pengguna jalan. Jalanan banda aceh sering dibuat ribet kali ini dengan potongan atau belokan jalan yang lebih jauh dari tujuan dan mengharuskan si pengendara agar memutar dulu kendaraan dan itu memakan waktu. Tapi sebagian besar orang selalu mnggunakan sebuah shortcut, ya memutuskan berjalan di jalur yang berlawanan arah. Mungkin memang nyawa sekarang lebih murah daripada waktu. Kan waktu adalah emas, dan emas adalah logam mulia paling mahal, hehehe.

Secara gak langsung, kita men- skip proses kan? Kita men- skip proses untuk muter jalan dengan alur yang baik dan lebih milih jalan dari jalur berlawanan. Padahal jelas resikonya berjudul : bahaya. Memang dalam hidup, ada pilihan untuk melawan arus atau mati dalam arus yang sudah ditentukan. Tapi gak ada kan pilihan buat minum racun terus nari nari karena mati dengan hal instan yang kita buat. Kalopun itu jadi pilihan, saya rasa itu pilihan paling buruk.

“Lebih baik kamu kalah karena memang kamu kalah dari pada kamu kalah karena yasudahlah” , Artinya tipe “kalah yasudahlah” adalah kamu tidak berusaha sebelum kalah dalam artian pasrah sebelum berperang.kalah karena memang kalah artinya kamu sudah sangat amat berusaha, tapi memang apa yang kamu harap bukan jadi milikmu, dan ini jelas punya proses.

Tapi dibalik semua itu, kemarin teman saya membuktikan pada saya kekuatan percaya diri dan proses (bye bye pesimis, kita putus). Dia mendapat sebuah project di hari minggu dimana seluruh anak buah nya libur. Dia duduk di depan laptopnya, mencari apa yang harus dia cari dengan keyakinan penuh. Penuh sekali. Saya hanya gak membayangkan musti ada di posisinya. Dia melakukan proses dengan baik dan alhamdulillah, apa yang dia inginkan tercapai. Padahal memang kalau dipikir secara logika, gak mungkin menyusuun preparation serumit itu dalam waktu sesingkat itu. Dan seringkali kita sebagai manusia lebih sering berpikir dan membayangkan dan (buruknya) menanamkan pada susunan syaraf otak bahwa ini tidak mungkin, iya itu adalah kemungkinan yang sering di lakukan. Tapi teman saya dengan keyakinan, dia bisa melewati proses itu. Harapan jadi nyata dalam tangannya. Dan dari hari itu, saya seperti dipaparkan sebuah kenyataan bahwa “Heeyy, keyakinan itu hidup. Dia bukan sekedar sugesti positif”. Hal ini terus saya ingat sampai di pagi senin saya olahraga pagi, mungkin semangat yang membuat saya pagi itu melihat langit terasa beda dan memang dengan sesuatu yang beda, kepercayaan diri dan keyakinan saya mulai beda. Saya mulai percaya 100% “ dalam ketidakmungkinan ada kemungkinan”.

Setidaknya apa yang teman saya lakukan bisa menjadi suatu pencarahan buat saya. Dan sejak hari itu, saya rasa saya harus mencabut sugesti bosan dalam diri saya saat mengikuti kuliah umum saya. Toh ini proses yang akan mempermudah saya. Saya hanya harus bertahan di beberapa step lagi : micro – ppl – kpm- wisuda. Saya butuh semangat. Dan sekitar saya adalah semangat yang senantiasa bisa mendorong saya agar lebih bekerja keras untuk itu.

Terima kasih Tuhan untuk badmood saya di hari minggu, mungkin kalo saya ga badmood saya gak bakal menyadari ada cahaya dalam proses ini. Terkadang ketika kamu ketusuk paku, kamu gak perlu memaki paku dan merasa diri bodoh karena ga liat itu paku kecil, tapi musti bersyukur sudah menjalani proses kenak paku dan sakit kaki karena ini bakal buat kita agar tidak tidak teledor lagi dan tahu rupanya kenak paku sakit ya, ga Cuma dalam bayangan fikiran tapi kenyataan juga. Dan hal ini bakal bikin kita berhati hati. Simpel kan? Dari pada memaki suatu keadaan yang kita anggap buruk, lebih baik kita selami dan sadar diri bahwa ada yang baik didalamnya. Seperti ketidakmungkinan yang berteman baik dengan kemungkinan setipis itu juga kenyataan baik dan semangat keyakinan bersatu.

Think and Realize, Ternyata kita sering murka terhadap proses ya? Dont do it anymore. Pesimistic is a crime JJ.

Sabtu, 19 Maret 2011

Balada kondangan

Hal paling menyenangkan di umur saya sekarang ini adalah pergi kondangan. Iya, saya mendadak betah berjibaku dengan foundation, eyeliner, eyebrow, dan berbagai macam peralatan make-up minimalis. Tapi dibalik semua itu, setiap wanita punya cara masing masing untuk menginterpretasikan dirinya di sebuah acara kondangan besar. Salon adalah sasaran segar bagi miss perfect. Tiap detail diperhatikan, mulai dari warna pentul sampai bentuk konde (saat ini lg ngetren konde modern dalam jelbab). Bagus bagus, saya suka pergerakan fashion di kota ini, beradaptasi dengan syariat. Seperti cewek cewek lain juga, saya bongkar lemari. Kali ini saya bosan dengan ritual gamis atau kebaya blink blink. Saya pun memilih me- mix kan antara rajut merah hati dengan rok dan owl necklace. Saya tampak beda, jelas. Tidak apa, ini namanya classy chick. Kali ini saya tidak memasangkan kata “glamour” didalamnya. Saya butuh glamour itu muncul dari aura. Aura kenyaman saya pake baju ini. Oke, baju pas, jelbab kece (tapi saya ga punya konde, rambut saya sudah saya “sarah sechan” kan a.k.a saya tebas pendek).

Top side beres, saya mulai celinguk ke urusan “kaki”. Hmm, saya sering mengalami kesulitan disini. Keseharian, saya bukan tipe wanita hobi belanja yang ngoleksi semua girl stuff. Saya gak pernah punya high heels pribadi , jadi saya pinjem punya umi saya ( kami memang sering barteran, tapi ibu saya lebih sering minjem sandal jepit saya daripada highheels saya karna saya gak punya). Rata rata senti nya pada minim. 7 paling tinggi. Arrrggghhhh, saya butuh 20 senti, ada?!! Saya bongkar kotak sepatu pribadi ibu saya. Biasanya dia bakal mencak mencak kalo tau saya juga akan memboyong tas nya (hehehehee J ). Saya mendapatkan heels cantik silver hitam untuk memaksimalkan penampilan saya. Tapi, saya gak cukup tinggi juga. Tetep aja saya kayak kakak kakak berukuran mini pergi kawinan.

Akhirnya pergilah saya ke kawinan itu. Suasana nya rame sekali dan makanan nya juga masih ramai J. Mendadak suasana berubah jadi lautan payet, wow. Saya terkesima melihatnya. Kawinan juga bisa jadi tempat dimana kita bisa nyari referensi gaya baju secara real. Dan seringkali ambisi saya hanya sebatas dalam gedung untuk membuat sebuah gaun atau baju, setelah lewat pintu gerbang maka buyar lah semua. Dan trnyata saya lebih milih beli jins belel atau sepatu keds daripada baju payet manik manik cantik.

Saya menyusuri barisan makanan, mata saya juga mulai jelalatan liatin orang. Maaf, saya gampang terkecoh dengan banyak orang dan jadi tidak fokus (memang pernah fokus?). saya mencari kursi untuk segera mengisi perut saya. Lama saya duduk, mulai banyak teman yang datang dan menghampiri, salah satunya teman saya yang saat ini sudah bekerja di luar kota. Dy nanya “ tere, kapan merid? “. Saya tergelak. Ahahahaa, masih 20 juga. Terus dia doain saya supaya cepat nikah, yaudah saya aminin aja.

Selesai makan , puncaknya salaman sama pengantin. Saya rasa itu adalah detik dimana saya baru sadar bahwa teman saya sudah menikah rupanya. Baru saya mengaharu biru dan akhirnya poto poto. Selepas pulang rasanya saya baru merasa kalau masa masa saya atau kita sebebas merpati tidak lah lama. Jadi selagi sendiri, sebisa mungkin nikmatin kesendirian. Ya,hanya ada kita dan diri sendiri. Semoga kebahagiaan selalu menyertai semua pengantin yang sedang berbahagia hari ini.

1 kata yang terakhir yang saya ingat dari seorang teman yang menikah tadi : “sekarang aku gak bisa gulung lengan lagi kalo pake baju”. Dia pun tertawa. Saya juga. Suatu saat nanti kata kata itu bakal jadi punya saya. Rasanya sekarang pengen pulang dan meluk keds erat erat dan make semua kemeja saya terus saya gulung lengannya. J J J

Jumat, 18 Maret 2011

anak kecil bicara PERKAWINAN

Akhir akhir ini pertanyaan yang sering saya tanyakan pada teman teman saya (tepatnya : abang atau kakak) saya yang berusia 25 tahun keatas adalah “Kapan merid?” atau versi halusnya “mana ni kakak ipar buat tereee??”. Rata rata teman saya berusia 20 tahun keatas , loveless (jomblo), dan job addict. Mereka saya temui di dunia kerja saya. Dan terkadang kalimat “kapan kawin” itu adalah frontal sekali dan saya selalu nanyain itu dengan nafas lempeng, padahal yang jawab uda berasa bengek. Kadang saya merasa ini salah dan memang salah walaupun saya tanya tanpa dosa banget kesannya. Saya berasa jadi reminder perkawinan buat teman teman saya. Seringkali muncul pertanyaan dan kekhawatiran jika di umur sekian (takaran orang tua, 25 keatas) mustinya udah menikah, tapi nemu yang mau dinikahin aja belum. Kata ibu saya, jaman dulu tahun 80an, anak seumuran saya udah pada merid (saya 20 tahun sekarang). Saya Cuma menjadikan itu sebagai info masa lampau untuk masa depan. Mungkin kata kata itu bakal jadi reminder buat saya supaya gak terlalu fokus sama dunia sendiri dan menganggap sendiri itu baik. Kata acha kan “berdua lebih baik”, tapi kalo betiga ga baik, ditengah entar ada syaitoooon.

Tapi kenyataan yang saya jumpai di sekeliling, temen saya pada nyaman aja tu berada di pucuk usia yang sebenarnya bukan “comfort zone” lagi buat mereka untuk sendiri. Nikmatin kesendirian , having fun, doing all the worth things, pokoknya merdeka !. tapi mu sampai kapan?

Saya merasa, saya juga loveless dan job addict. Uda lama banget inbox saya ga ada isi sms dari pacar. Hubungan cinta saya akhir akhir ini hanya sebatas dua orang yang nyaman satu sama lain dan tidak mempunyai ikatan semi legal seperti pacar. Okay, its been so long for not taking time to have a good talk as a girlfriend. Tapi saya juga nyaman dengan keadaan ini. Entah nyaman entah memang saya “nyerah” sehingga nyaman. Sepertinya saya baru jadi anggota dari comfort zone itu. Baru juga 20 tahun, apa coba saya mikir kawin, saya mah lagi gencarnya mikir judul skripsi kali. Tapi di sisi lain, 20 tahun adalah usia dimana saya banyak nerima undangan buat nikahan temen sebaya atau akikahan anak temen sebaya juga. Ya, teman sebaya sayajuga rata rata sudah menikah. Dan saya , masih tetap jadi tamu undangan.

Kadang, orang merelasikan antara perkawinan dengan aliran emosi seseorang. Ini hal yang sering saya temukan di masyarakat. “kalo telat merid, biasanya emosian kayak orang hipertensi”. Menurut saya, ini bukan pakem. Buktinya saya masih banyak menemukan orang yang belum menikah di usia “matang” tapi anteng aja fluktuasi emosinya. Tapi yaa tergantung pribadi masing masing.

Pada dasarnya, setiap orang memang butuh pendamping. Gila aja, dunia segini gede dipake buat hidup sendiri. Walaupun kita punya segepok gepok duit, rumah segede gede bagong, mobil semewah mewahnya, teteeep aja kita butuh yang namanya pelengkap berstatus “MANUSIA”. Dicintai dan mencintai itu kebutuhan paling primer menurut saya.

Tiap manusia butuh cinta. Butuh bukan mau. Jadi ketika kamu belum menemukan cinta itu, berati kamu belum butuh itu.tapi bukan berarti kamu gak punya cinta, world consists with love. Semua orang di dunia mau cinta, tapi apa kalo kita di titipin cinta itu kita bakal bisa ngejamin kita bakal memperlakukan cinta kita seperti maunya cinta itu? Perhatikan aja deh filosofi kata “BUTUH dan MAU”.

Tadi sore temen saya curhat, dia di jodohin. Umurnya 25 tahun. tapi dia masih pengen melajang. Dia 3 tahun gak pacaran selepas putus dengan mantan terakhirnya. Alasan temen saya yang lain adalah dia pengen fokus jaga ortunya yang lagi sakit. Saya terharu dengan alasan itu. Teringat anne marie, cewek amerika yang gak merid seumur hidup Cuma karena pengen jagain ibunya yang sakit. Temen saya ini juga pernah rela kehilangan peluang kerja di bank karena alasan yang sama. Saya yakin ini kontroversi buat sebagian orang. Tapi tidak bagi teman saya. Saya yakin dia akan menemukan hari baiknya dimana semua yang terjadi tidak ada yang bertentangan.

Pada akhirnya, para pejuang cinta (kayak kata band Hello), akan menemukan kemerdekaannya ketika cintanya telah ditemukan. Maaf kalo tulisan ini rada brutal alurnya, saya nulis dalam keadaan multitasking (nulis, pengen ngupi, nonton dan dengerin lagu bsb- bye bye love dan mengantuk).

Saya teringat interview salah seorang penulis tadi siang . dia berulang tahun ke 35 dan still single. Oke, lagi saya menemukan lelaki mapan, pintar dan belum menikah. Dia tidak merasa itu sebuah kekurangan. Setiap orang pasti punya cara sendiri untuk menyikapi posisi “missing puzzle” di hidupnya. Lelaki tadi bilang gini : “ saya merasa hidup saya sempurna banget terlepas dari keinginan punya pernikahan. Saya sudah punya apa yang saya butuh dan itu lebih penting daripada apa yang saya mau. Karena pastinya saya lebih baik memiliki yang saya butuh daripada terus mengejar yang saya mau. Saya bisa bersyukur jadinya.”

Ini logis jelas. Kalo Cuma nurutin apa yang kita mau, kita bakal terus terbang dan lupa daratan. Yang paling parah, kita bakal lupa bersyukur. Siapa coba yang gak mau merid di usia yang seharusnya (menurut) orang tua harus menikah, hanya saja semesta belum mempertemukan.

Tapi percaya lah, tiap cerita punya closing setelah klimaks. Saya yakin semua bakal punya happy ending seperti apa yang diinginkanya. Dengan atau tanpa pendamping, itu akan sama saja, karena kita semua pada hakikatnya punya cinta dalam hati. Soal jodoh, cinta bisa telepati kan? Koneksi nya kenceng kok buat nyatuin di saat yang tepat JJJ

Kamis, 17 Maret 2011

Kota saya !!

#NowListening : SHANDY SONDORO – DOWN ON THE STREET // 17 maret 2011.

Kemarin saya ke kojek, jalan kaki dari radio. Alaamaaak, laaamaa kali gak jalan kaki. Berhubung baru siap hujan dan gak terik terik kali lah, saya jalan kaki sama temen saya. Saya merhatiin kota ini. Tiap trotoar yang saya lewatin, saya kayak dapet inspirasi buat jadi bahan nulis. Kota ini mulai berubah. 19 tahun saya tinggal di banda aceh, semuanya gak lagi sama. Jalanannya, bangunannya, kehidupannya, dan juga orang orangnya. Saya girang banget, Kayak anak monyet turun gunung. Apalagi waktu traffic lg kosong, saya lari larian kecil gak peduli orang liatin. Lewatin peunayong, liatin toko toko jaman. It was nice. Sampe di penayong, ada satu sisi simpang yang masih otentik temboknya. Dekorasi jaman, tapi udah dibranding sama orang dan buat itu jadi ga indah. Dan sederetan toko itu juga kayaknya tinggal di renovasi dengan struktur toko modern, padahal seharusnya kita musti ngelestariin bangunan jaman itu.

Saya juga mendapati toko ini penuh dengan toko. Dimana mana toko. Bahkan ditempat saya makan, sepanjang jalan tokoooooo semua. Saya sempat terharu pas liatin 2 anak kecil peminta minta. 2 anak kecil perempuan berusia kira kira 11 tahun, ya sebaya adik saya. Saya yang lagi makan tiba tiba pengen nangis. Gak tahu kenapa, saya hanya terharu. Dibalik semua pembangunan kota yang lagi gencar gencarnya, kota saya masih terselip kisah kemiskinan yang nyata. Oke, mungkin mereka peminta minta itu punya alasan kenapa mereka mengemis, tapi yang saya pertanyakan, kenapa harus anak di bawah umur juga ikut?? Salah siapa ini? Harusnya anak anak itu fokus belajar dan gak minta minta. Tapi alasan bantu orang tua adalah alasan yang memang mendasari mengapa mereka mengemis.

Saya dengan teman saya melewati banyak perbincangan. Mulai dari politik sampai urusan makan. Temen saya sempat nyeletuk,”kak, maunya sebelum pasal 34 dirancang , dipikir dulu ya. Sekarang kiat yang terlantar, makin terlantar.”

Saya Cuma tersenyum kecil dan ngelanjutin makan. Saya gak komentar.tapi hati saya bergumam “realita itu memang kejam”.

Pas pulang, saya sempet liat turis dari korea entah, motoin bangunan tua di sekitar situ. Di pikiran saya, andai aja toko toko ini tetap di pertahankan “ketuaan”nya. Ni turis aja masih mau moto yang udah agak ringsek bangunannya.

Saya dan temen saya akirnya balik dari kojek ke radio. Kali ini kami lewat depan rek. Dulu, rek ini banyak kulit kerang dan saya selalu suka itu, sekarang udah di pugar baru jadi bernuansa minimalis modern gitu. Huff, banyak sekali udah tempat makan. Sepanjang jalan penayong juga tokoooooo semuaaaaa. Padahal kalo dibangun taman, kan ada manfaatnya juga. Kota ini semenjak tsunami, mulai kekurangan pohon. Pohon besar khususnya. Padahal kota butuh pohon untuk netralisir udara kota yang penuh sama asap.

Oke di bawah beurawe PERNAH ada taman, tapi sekarang tinggal sisa. Gak pada di rawat. Lampu pada dicopotin, tembok dicoretin dan parahnya lagi dermaganya hancur. Dulu di depan mesjid raya juga ada taman dengan tulisan DILARANG MENGINJAK RUMPUT ! tapi sekarang pernah saya liat disitu jadi tempat mangkal orang jualan jajanan kali lima semisal bakso. Jangankan injak rumput, itu tempat udah jadi tempat jualan sekarang. Kalo aja pemerintah lebih aware dgn bangunan bernilai sejarah atau berarsitektur lampau, pastinya sekarang bangunan deket pasar aceh yang sekarang jadi salah satu swalayan itu, udah bisa jadi spot foto yang bagus. Sebenarnya banyak bangunan di banda aceh ini yang punya jaman dulu dan berarsitektur tempoe doeloe., tapi semua pada missing.

Harapan saya, semoga kota ini lebih sadar apa yang dia punyai dan di jaga dengan baik daripada menciptakan yang belum kita punya tapi disia siakan pada ujungnya. Kita punya banyak hal indah lho. Kita punya pantai yang cantik dan luas. Kita punya hutan seulawah yang hijau. Dan banyak hal lain yang seharusnya kita jaga.

Teman, bumi mulai tua. Alam selama ini selalu memberi, kenapa kita untuk menjaga saja susah. Mulai lah dari hal kecil, setidaknya kita tahu untuk membuang sampah pada tempatnya. Sekarang internet udah ada dimana mana, gak ada salahnya kan 5 menit aja buat browsing tentang bumi dan cara menjaganya. Toh, manfaat nya untuk kita juga. Udah cukup bencana dimana mana, dan ini tandanya alam mulai geram. Jangan lagi ada penebangan liar, kasian hewan hewan pada terganggu hidupnya. Misalnya : kalo ada harimau lewat kedepan rumah, warga pada nembakin karena ketakutan. Harimau mati. Padahal kalau dipikir, kenapa dia bisa sampai mengganggu habitat manusia? Karena habitatnya juga di hancurin sama manusia. Dia gak tau musti pulang kemana kalo hutan terus terusan dirusak. Kadang tanpa disadari kita terlalu banyak menyalahkan daripada menyadari kesalahan.

Semoga hutan seulawah, ga dijadikan lahan proyek ya. Kayunya gak ditebang. Biarkan lah area hutan tetap orisinil tanpa harus dibuat macem macem. Kasian hewan didalamnya, hidup mereka terganggu. Hewan jangan pada diburu. Apalagi hewan langka. Saya belum pernah liat langsung badak bercula satu, dan menurut WWF,, jumlah nya di seluruh dunia tinggal 40 – 60 ekor. Jangankan saya, mungkin banyak dari kita yang belum liat badak cula satu. Di seulawah mungkin ga ada badak cula satu, tapi monyet monyet itu, yang hobi jadi “pengemis” dari tiap bis yang lewat gmana? Mereka ngais ngais sampah, minta makan sama tiap mobil yang lewat. Kalo dipikir logika, masak hutan gak bisa nyediain makanan buat mereka. Sebenernya bukan gak bisa, tapi memang udah kurang.

Ini miris. Semoga indonesia khususnya aceh, bisa menjaga lingkungannya dengan baik. Jadi jangan marah marah kalo cuaca labil (dalam panas ada hujan, atau bentar panas, bentar hujan), bumi mulai gak seimbang. Mari selamatkan bumi. Kalo bukan kita, siapa lagi. Tuhan nyiptain bumi sesempurna mungkin, kenapa kita yang dikasih titipan , gak bisa jaga dengan baik??

Jawab dalam hati, dan mari mulai menjaga bumi. Kita butuh aksi bukan basa basi.