Akhir akhir ini pertanyaan yang sering saya tanyakan pada teman teman saya (tepatnya : abang atau kakak) saya yang berusia 25 tahun keatas adalah “Kapan merid?” atau versi halusnya “mana ni kakak ipar buat tereee??”. Rata rata teman saya berusia 20 tahun keatas , loveless (jomblo), dan job addict. Mereka saya temui di dunia kerja saya. Dan terkadang kalimat “kapan kawin” itu adalah frontal sekali dan saya selalu nanyain itu dengan nafas lempeng, padahal yang jawab uda berasa bengek. Kadang saya merasa ini salah dan memang salah walaupun saya tanya tanpa dosa banget kesannya. Saya berasa jadi reminder perkawinan buat teman teman saya. Seringkali muncul pertanyaan dan kekhawatiran jika di umur sekian (takaran orang tua, 25 keatas) mustinya udah menikah, tapi nemu yang mau dinikahin aja belum. Kata ibu saya, jaman dulu tahun 80an, anak seumuran saya udah pada merid (saya 20 tahun sekarang). Saya Cuma menjadikan itu sebagai info masa lampau untuk masa depan. Mungkin kata kata itu bakal jadi reminder buat saya supaya gak terlalu fokus sama dunia sendiri dan menganggap sendiri itu baik. Kata acha kan “berdua lebih baik”, tapi kalo betiga ga baik, ditengah entar ada syaitoooon.
Tapi kenyataan yang saya jumpai di sekeliling, temen saya pada nyaman aja tu berada di pucuk usia yang sebenarnya bukan “comfort zone” lagi buat mereka untuk sendiri. Nikmatin kesendirian , having fun, doing all the worth things, pokoknya merdeka !. tapi mu sampai kapan?
Saya merasa, saya juga loveless dan job addict. Uda lama banget inbox saya ga ada isi sms dari pacar. Hubungan cinta saya akhir akhir ini hanya sebatas dua orang yang nyaman satu sama lain dan tidak mempunyai ikatan semi legal seperti pacar. Okay, its been so long for not taking time to have a good talk as a girlfriend. Tapi saya juga nyaman dengan keadaan ini. Entah nyaman entah memang saya “nyerah” sehingga nyaman. Sepertinya saya baru jadi anggota dari comfort zone itu. Baru juga 20 tahun, apa coba saya mikir kawin, saya mah lagi gencarnya mikir judul skripsi kali. Tapi di sisi lain, 20 tahun adalah usia dimana saya banyak nerima undangan buat nikahan temen sebaya atau akikahan anak temen sebaya juga. Ya, teman sebaya sayajuga rata rata sudah menikah. Dan saya , masih tetap jadi tamu undangan.
Kadang, orang merelasikan antara perkawinan dengan aliran emosi seseorang. Ini hal yang sering saya temukan di masyarakat. “kalo telat merid, biasanya emosian kayak orang hipertensi”. Menurut saya, ini bukan pakem. Buktinya saya masih banyak menemukan orang yang belum menikah di usia “matang” tapi anteng aja fluktuasi emosinya. Tapi yaa tergantung pribadi masing masing.
Pada dasarnya, setiap orang memang butuh pendamping. Gila aja, dunia segini gede dipake buat hidup sendiri. Walaupun kita punya segepok gepok duit, rumah segede gede bagong, mobil semewah mewahnya, teteeep aja kita butuh yang namanya pelengkap berstatus “MANUSIA”. Dicintai dan mencintai itu kebutuhan paling primer menurut saya.
Tiap manusia butuh cinta. Butuh bukan mau. Jadi ketika kamu belum menemukan cinta itu, berati kamu belum butuh itu.tapi bukan berarti kamu gak punya cinta, world consists with love. Semua orang di dunia mau cinta, tapi apa kalo kita di titipin cinta itu kita bakal bisa ngejamin kita bakal memperlakukan cinta kita seperti maunya cinta itu? Perhatikan aja deh filosofi kata “BUTUH dan MAU”.
Tadi sore temen saya curhat, dia di jodohin. Umurnya 25 tahun. tapi dia masih pengen melajang. Dia 3 tahun gak pacaran selepas putus dengan mantan terakhirnya. Alasan temen saya yang lain adalah dia pengen fokus jaga ortunya yang lagi sakit. Saya terharu dengan alasan itu. Teringat anne marie, cewek amerika yang gak merid seumur hidup Cuma karena pengen jagain ibunya yang sakit. Temen saya ini juga pernah rela kehilangan peluang kerja di bank karena alasan yang sama. Saya yakin ini kontroversi buat sebagian orang. Tapi tidak bagi teman saya. Saya yakin dia akan menemukan hari baiknya dimana semua yang terjadi tidak ada yang bertentangan.
Pada akhirnya, para pejuang cinta (kayak kata band Hello), akan menemukan kemerdekaannya ketika cintanya telah ditemukan. Maaf kalo tulisan ini rada brutal alurnya, saya nulis dalam keadaan multitasking (nulis, pengen ngupi, nonton dan dengerin lagu bsb- bye bye love dan mengantuk).
Saya teringat interview salah seorang penulis tadi siang . dia berulang tahun ke 35 dan still single. Oke, lagi saya menemukan lelaki mapan, pintar dan belum menikah. Dia tidak merasa itu sebuah kekurangan. Setiap orang pasti punya cara sendiri untuk menyikapi posisi “missing puzzle” di hidupnya. Lelaki tadi bilang gini : “ saya merasa hidup saya sempurna banget terlepas dari keinginan punya pernikahan. Saya sudah punya apa yang saya butuh dan itu lebih penting daripada apa yang saya mau. Karena pastinya saya lebih baik memiliki yang saya butuh daripada terus mengejar yang saya mau. Saya bisa bersyukur jadinya.”
Ini logis jelas. Kalo Cuma nurutin apa yang kita mau, kita bakal terus terbang dan lupa daratan. Yang paling parah, kita bakal lupa bersyukur. Siapa coba yang gak mau merid di usia yang seharusnya (menurut) orang tua harus menikah, hanya saja semesta belum mempertemukan.
Tapi percaya lah, tiap cerita punya closing setelah klimaks. Saya yakin semua bakal punya happy ending seperti apa yang diinginkanya. Dengan atau tanpa pendamping, itu akan sama saja, karena kita semua pada hakikatnya punya cinta dalam hati. Soal jodoh, cinta bisa telepati kan? Koneksi nya kenceng kok buat nyatuin di saat yang tepat JJJ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar