Rabu, 14 Desember 2011
denting abu rokok
saya duduk di ruangan berkaca di salah satu warung kopi terkemuka dikota ini. tempat ini cukup nyaman dipadukan dengan malam. bangunan semi minimalis dengan dekorasi mahal tapi menyenangkan kami para penikmat suasana ngopi. malam ini tidak ada wangi kopi dimeja saya, segelas air putih dan segelas susu hangat beserta sepiring nasi goreng sebagai kudapan malam sang pacar. semuanya berbicara disini. bahkan liukan asap rokok pun berdesis. menemukan kejadian nyata dikota ini, banyaknya peminta minta. bisa dibilang ini potret buram dari sebuah kota yang baru saja menyeret belasan anak gelandangan yang tuan nyonya itu sebut "anak punk". tidak saling mengusik, ini yang saya lihat ditempat ini. dari sekian banyak apa yang ada, saya merasa terenyuh ketika suara "assalamialaikum" dari seorang bapak tunanetra dengan anaknya. iba, tapi ada berapa banyak peminta minta disini? adakah yang bisa saya lakukan selain memberi rupiah? saya merasa ini tidak akan mengubah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar