apa yang terlintas jika mendengar kata "perempuan"?
perkawinan?
sesuatu yang identik dengan "aurat"?
sesuatu yang hanya mengerti kasur, dapur, sumur?
sesuatu yang geraknya selalu diintai sehingga sebaiknya tetaplah "biasa saja"?
paparan itu memang sesuatu yang selalu diidentikkan dengan perempuan.
ketika kita bisa belajar mengenal perempuan yang pertama kita kenal adalah "ibu".
jika bukan karena ibu, kita hanya akan tertidur didalam rahim ataupun masih dilangit ke tujuh menunggu dipasangkan dengan orangtua kita.
jika kita merunut riwayat perempuan, sisi kelam sepertinya tidak pernah luput dari zaman ke zaman.
Faktanya :
* Dari 230 juta penduduk Indonesia berdasarkan komposisi gender, terdiri
dari 119,5 juta berjenis kelamin lelaki dan 118 juta adalah wanita. Dari
tahun ke tahun rasio perbandingan antara pria dan wanita terus
meningkat.
tapi pernah gak kita sedikit berfikir bagaimana sebenarnya rasanya jadi manusia dengan space terbatas dan hidup seakan (harus) dengan persepsi orang banyak?
selama ini seorang perempuan seakan harus bergantung dengan kata "gak boleh gitu, kita perempuan" ataupun "apa jadi anak perempuan begitu tingkahnya" atau yang cenderung membuat pesimis cenderung merendahkan "gak mungkin perempuan bisa..".
rasanya tidak bahagia jika kami selalu diberi "label".
jika ada peraturan bahwa kopi tidak boleh dicampur creamer atau susu karena haram, maka seperti itulah rasanya hidup yang diberi label. gula harus selalu dengan kopi. titik. jelas salah kan?
banyak kejadian dimana perempuan sering diremehkan atau tidak dianggap.
seakan semua perempuan jika ia bergerak sedikit melampaui persepsi "sumur, kasur, dapur", maka kami akan dikutuk.
mari kita berhitung..
berhitung penderitaan yang sering kami tangisi lalu kami pendam dan menguap begitu saja.
saya pernah menonton sebuah film indonesia yang berjudul "bidadari jakarta". dalam film itu ada potongan adegan yang menunjukkan pelecehan seksual terhadap anak perempuan. digambarkan bahwa anak jalanan yang perempuan dijual oleh tuan mereka kepada para supir truk yang haus belaian istri dirumah hanya dengan bayaran 100.000 rupiah. hal tersebut saya rasa memang terjadi diluar sana. yah sekeras itu kehidupan terminal dan itu hanya bagian kecil dari banyak hal lain yang perempuan rasakan.
berdasarkan data yang saya kutip dari sebuah blog :
" “Ada 93.960 kasus kekerasan seksual dari total 400.939 kasus kekerasan
yang dilaporkan. Artinya, setiap hari ada 20 perempuan menjadi korban
kekerasan seksual."
belum lagi para wanita dan ibu yang nekat jadi TKI demi kehidupan lebih baik. dan pada akhirnya kebanyakan berujung pada kasus seperti :
" Kasus kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) tahun 2010
mencapai 4.532 kasus. Angka itu diperoleh berdasarkan laporan dari
seluruh kedutaan besar RI di dunia."
padahal jika perempuan diberi porsi sedikit saja, maka kami bisa mengikuti jejak mereka ataupun lebih dari mereka :
" Elsa Rosyidah, wanita Indonesia co-owner Toko Pupuk Online terpilih jadi satu diantara daripada 9 wanita Indonesia yang menerima peluang untuk merasakan program 10.000 Women Entreprenership Partnership Global Cohort."
" prestasi Ibu Sri Mulyani di bidang perekonomian, di tengah peliknya
kasus Bank Century beberapa tahun lalu, beliau telah mengharumkan
Indonesia di dunia perekonomian Internasional dengan terpilihnya beliau
menjadi Managing Director di Bank Dunia, yang seorang pria pun belum tentu dapat menduduki posisi tersebut
" Dalam bidang pendidikan, ada Ibu Irina Amongpraja seorang dokter yang
mendedikasikan hidupnya untuk pemulung-pemulung kecil yang putus
sekolah. Dengan modal kepedulian dan keprihatinan kepada anak bangsa,
Beliau mendirikan sebuah yayasan di kawasan yang mulanya tempat
pembuangan sampah yang kini ia sulap menjadi sebuah istana pendidikan
untuk anak-anak jalanan yang di beri nama “Sekolah Kami”
banyak lagi hal yang perempuan torehkan sebagai prestasi. semoga saja, para perempuan tidak takut lagi untuk bergerak maju. jika memang perempuan adalah mutiara, maka temukan lah dia. karena jika hanya terpendam, maka kami bukan apa-apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar